Huaaaa, lama banget yaaa ga nongol di blog ini.. Entah habis menghilang kemana aja.. Hheeee..
Mohon maaf sekali kalo selama ini ga muncul-muncul dan ada beberapa pertanyaan (yang mungkin udah ditunggu-tunggu jawabannya entah dari jaman kapan) yang belum dijawab juga sampe hari ini.. I'm so sorry..
Okeee, finally welcome back for me :)
dunia_ella
Assalamualaikum^^ Selamat datang di duniaku, selamat membaca dan semoga dapat bermanfaat yaaa :)
Minggu, 20 April 2014
Senin, 17 Desember 2012
Metode Secant
Kalo ini materi presentasi kelompok kita waktu kuliah Metode Numerik tentang Metode Secant silahkan didownload
Sabtu, 15 Desember 2012
Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Ada lagi model pembelajaran yang cocok untuk digunakan dalam pelajaran matematika teman.. Namanya adalah Missouri Mathematics Project (MMP). Sudah tahu? Pernah dengar?? Atau sudah pernah mempraktikannya??? Let's see..
Model Pembelajaran Missouri
Mathematics Project (MMP)
a.
Definisi Model
Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Model pembelajaran MMP adalah pembelajaran yang terstruktur seperti
halnya Struktur Pembelajaran Matematika (SPM), tetapi MMP mengalami
perkembangan dengan langkah-langkah yang terstruktur dengan baik. Good dan
Grows telah mengkaji suatu bentuk pengajaran matematika Missouri. Mereka
menyatakan bahwa enam tingkah laku guru yang efektif adalah:
1)
Mengelola kelas secara
klasikal
2)
Menyajikan informasi
secara jelas
3)
Memfokuskan kelas
terhadap tugas-tugas
4)
Menciptakan lingkungan
belajar yang sesuai
5)
Mengharapkan pencapaian
yang tinggi terhadap siswa-siswanya
6)
Menggunakan pengalaman
mengajar untuk memperkecil gangguan dalam pembelajaran.
Menurut Faulkner dalam Sunawan menyatakan bahwa kajian yang dilakukan
oleh Good dan Grows ditujukan untuk membuat matematika lebih bermakna sehingga
meningkatkan hasil pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Kajian tersebut
kemudian dikenal dengan Missouri Mathematics Project (MMP).
Model Missouri Mathematics Project ( MMP ) merupakan suatu
program yang di desain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan
latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa.
Latihan-latihan yang dimaksud yaitu lembar tugas proyek, dimana pada saat
kegiatan belajar mengajar guru memberikan tugas proyek kepada siswa agar siswa
dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan tujuan untuk membantu siswa agar
lebih mudah memahami materi yang dijelaskan oleh Guru.
b.
Langkah-Langkah Model
Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Secara sederhana tahapan
kegiatan dalam Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project adalah sebagai berikut :
1)
Pendahuluan atau Review
a)
Membahas PR.
b)
Meninjau ulang pelajaran
lalu yang berkait dengan materi baru.
c)
Membangkitkan motivasi.
2)
Pengembangan
a)
Penyajian ide baru
sebagai perluasan konsep matematika terdahulu.
b)
Penjelasan, diskusi
demonstrasi dengan contoh konkret yang sifatnya piktorial dan simbolik.
3)
Latihan Dengan Bimbingan
Guru
a)
Siswa merespon soal
b)
Guru mengamati
c)
Belajar kooperatif
4)
Kerja Mandiri
Siswa bekerja sendiri untuk latihan atau
perluasan konsep pada langkah 2.
5)
Penutup
a)
Siswa membuat rangkuman
pelajaran, membuat renungan tentang hal-hal baik yang sudah dilakukan serta
hal-hal kurang baik yang harus dihilangkan.
b)
Memberi tugas PR.
c.
Karakteristik Model
Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Karakteristik dari model
pembelajaran MMP ini adalah Lembar Tugas Proyek. Tugas proyek ini antara lain dimaksudkan untuk memperbaiki
komunikasi, penalaran, keterampilan membuat keputusan dan keterampilan dalam
memecahkan masalah. Tugas proyek ini dapat dilakukan secara individu (pada
langkah seatwork) atau secara berkelompok (pada langkah latihan terkontrol).
Sehingga tugas proyek ini merupakan suatu tugas yang meminta siswa untuk
menghasilkan sesuatu (konsep baru) dari dirinya (siswa) sendiri.
Tugas Proyek ini diharapkan untuk:
·
Memungkinkan siswa
menjadi kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang
berbeda – beda,
·
Memberikan kesempatan kepada
siswa untuk merumuskan pertanyaan mereka sendirian kemudian mencoba
menjawabnya,
· Memberikan siswa masalah
– masalah sebagai cara alternative mendemonstrasikan pembelajaran dan
kompetensi siswa,
·
Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berinteraksi secara positif dan bekerja sama dengan teman
sekelasnya, dan
·
Memberikan forum bagi
siswa untuk berbagi pengetahuan dan kepandaian mereka dengan siswa lainnya.
d.
Prinsip-Prinsip dalam
Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Prinsip-prinsip atau unsur-unsur dalam model pembelajaran Missouri Mathematics Project ada 2
yaitu Belajar Kooperatif dan Kemandirian Siswa.
·
Belajar Kooperatif
Pada belajar kooperatif
adanya prinsip ketergantungan posistif (dalam belajar kooperatif, keberhasilan
dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok
tersebut), adanya interaksi tatap muka (memberikan kesempatan yang luas kepada
setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi
untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota - anggota kelompok
lain), adanya partisipasi dam komunikasi (melatih siswa untuk dapat
berpartisipasi aktif dan berkomunikasi aktif dalam kegiatan pembelajaran) dan
adanya tanggung jawab perseorangan (keberhasilan kelompok sangat bergantung
dari masing – masing anggota kelompoknya).
·
Kemandirian Siswa
Kemandirian siswa dalam
hal ini adalah siswa mampu mengerjakan tugas – tugas atau latihan – latihan
yang berupa lembar kerja proyek yang diberikan oleh guru secara sendiri dan
penuh dengan rasa tanggung jawab terhadap tugas proyek tersebut. Dengan adanya
kemandirian dari siswa tersebut maka siswa tersebut telah menerapkan konsep
gaya belajar mandiri.
e.
Perbedaan Pembelajaran
Missouri Mathematics Project (MMP) dengan Pembelajaran Konvensional
Sepintas nampak bahwa
model pembelajaran MMP sama dengan pembelajaran konvensional, namun jika
ditelaah lebih dalam ada perbedaan antara model MMP dengan pembelajaran
konvensional. Perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Aspek Perbedaan
|
Pembelajaran Konvensional
|
Pembelajaran MMP
|
Pengembangan konsep/penyampaian materi.
|
Materi dominan disampaikan oleh guru secara keseluruhan
|
Materi disampaikan oleh guru atau siswa melalui diskusi maupun
kolaborasi antara guru dan siswa
|
Pengelolaan kelas
|
Pembelajaran klasikal (tidak ada pembentukan kelompok belajar)
|
Pembelajaran kelompok (siswa dibagi menjadi beberapa kelompok
belajar)
|
Sumber Pembelajaran
|
Dominan hanya menggunakan Teksbook
|
Teksbook, lembar tugas proyek (latihan terkontrol, latihan mandiri dan PR)
|
Interaksi belajar
|
Interaksi belajar terbatas hanya guru dengan siswa atau siswa dengan
siswa secara individu
|
Interaksi belajar lebih luas yaitu gur dengan siswa, siswa dengan
siswa dalam kelompok belajar, siswa dengan siswa secara individu, dan siswa
dengan sumber pembelajaran (lembar tugas proyek)
|
Penerapan konsep atau latihan
|
Latihan hanya diberikan ketika selesai pengembangan konsep siswa
mengerjakan secara individu atau dengan teman sebangku.
|
Latihan diberikan dua kali yaitu pada langkah latihan terkontrol dan seatwork
(latihan mandiri) siswa mengerjakan latihan secara kelompok (latiihan
terkontrol) dan latihan individu (seatwork)
|
Peran guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran
|
Guru lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran (Teacher Centered)
|
Siswa lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran (Student
Centered)
|
f.
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Missouri
Mathematics Project (MMP)
·
Kelebihan
1.
Banyak materi yang bisa
tersampaikan kepada siswa karena tidak terlalu banyak memakan waktu. Artinya
penggunaan waktunya dapat diatur relative ketat.
2.
Banyak latihan sehingga
siswa mudah terampil dengan beragam soal.
·
Kekurangan
1.
Kurang menepatkan siswa
pada posisi yang aktif.
2.
Mungkin siswa cepat bosan
karena lebih banyak mendengar.
Jumat, 14 Desember 2012
Metode Grafik
Well, untuk yang lagi belajar Pemrograman Linear dan ingin tahu tentang Metode Grafik silahkan dapat download disini
Rabu, 28 November 2012
Ini lhooo Model Pembelajaran CTL ituu..
Model Pembelajaran Contextual
Teaching Learning (CTL)
Contextual Teaching Learning (CTL) dapat diartikan sebagi suatu pembelajaran yang berhubungan dengan
suasana tertentu. Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian
John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika
apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan
atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
|
CTL
|
Konvensional
|
|
Pemilihan informasi
kebutuhan individu siswa;
|
Pemilihan informasi
ditentukan oleh guru;
|
|
Cenderung
mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin);
|
Cenderung terfokus pada
satu bidang (disiplin) tertentu;
|
|
Selalu mengkaitkan
informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa;
|
Memberikan tumpukan
informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan;
|
|
Menerapkan penilaian
autentik melalui melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah;
|
Penilaian hasil belajar
hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian/ulang
|
Karakteristik
Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual
melibatkan tujuh komponen utama dari pembelajaran produktif yaitu :
konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning),
menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community),
pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).
a. Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap
individu dapat membuat struktur kognitif atau
mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk
konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000).
Fungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery),
inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk
ide baru.
Menurut Piaget pendekatan
konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :
1)
Mengandung pengalaman nyata (Experience);
2)
Adanya interaksi sosial (Social interaction);
3)
Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense making);
4)
Lebih memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge).
Konstruktivisme merupakan
landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks
yang terbatas.
b. Bertanya (Questioning)
Bertanya
merupakan strategi utama dalam pembelajaran
kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing
dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya
merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna
untuk :
1)
Menggali informasi, baik administratif maupun akademis;
2)
Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa;
3)
Membangkitkan respon kepada siswa;
4)
Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5)
Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6)
Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7)
Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
c. Menemukan (Inquiry)
Menemukan
merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis
CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003).
Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran
didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara
sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah,
yaitu :
1)
Merumuskan masalah ;
2)
Mengajukan hipotesis;
3)
Mengumpulkan data;
4)
Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
5)
Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir
yang sistematis, diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional,
dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.
d. Masyarakat
belajar (Learning Community)
Konsep Learning
Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama
dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa,
antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu
materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi
pengalaman (Depdiknas, 2003).
e. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan dalam
pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan
tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara
mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam
arti guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam
pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat
dirancang dengan melibatkan siswa.
Menurut Bandura dan
Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan
mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru siswa
digolongkan menjadi :
- Kehidupan yang nyata (real life),
misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;
- Simbolik (symbolic), model yang
dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;
- Representasi (representation), model
yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya
televisi dan radio.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara
berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa
yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru
dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur pengetahun yang
baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.
Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahun yang
baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada kegiatan
pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelajaran.
Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang
realisasinya dapat berupa :
- Pernyataan langsung tentang apa-apa yang
diperoleh pada pembelajaran yang baru saja dilakukan.;
- Catatan atau jurnal di buku siswa;
- Kesan dan saran mengenai pembelajaran yang
telah dilakukan.
g. Penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian autentik
merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa telah
mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada proses
pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata
yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic
assessment menurut Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama
dan sesudah proses belajar berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun
sumatif, yang diukur keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat
fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic
assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya
siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes
tulis dan karya tulis.
Langganan:
Postingan (Atom)