Senin, 17 Desember 2012

Metode Secant

Kalo ini materi presentasi kelompok kita waktu kuliah Metode Numerik tentang Metode Secant silahkan didownload

Sabtu, 15 Desember 2012

Integritas Numerik

Ada beberapa contoh soal Integritas Numerik kawan. Mau lihat? Ada disini

Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)

Ada lagi model pembelajaran yang cocok untuk digunakan dalam pelajaran matematika teman.. Namanya adalah Missouri Mathematics Project (MMP). Sudah tahu? Pernah dengar?? Atau sudah pernah mempraktikannya??? Let's see..

Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)



a.       Definisi Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Model pembelajaran MMP adalah pembelajaran yang terstruktur seperti halnya Struktur Pembelajaran Matematika (SPM), tetapi MMP mengalami perkembangan dengan langkah-langkah yang terstruktur dengan baik. Good dan Grows telah mengkaji suatu bentuk pengajaran matematika Missouri. Mereka menyatakan bahwa enam tingkah laku guru yang efektif adalah:
1)        Mengelola kelas secara klasikal
2)        Menyajikan informasi secara jelas
3)        Memfokuskan kelas terhadap tugas-tugas
4)        Menciptakan lingkungan belajar yang sesuai
5)        Mengharapkan pencapaian yang tinggi terhadap siswa-siswanya
6)        Menggunakan pengalaman mengajar untuk memperkecil gangguan dalam pembelajaran.
Menurut Faulkner dalam Sunawan menyatakan bahwa kajian yang dilakukan oleh Good dan Grows ditujukan untuk membuat matematika lebih bermakna sehingga meningkatkan hasil pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Kajian tersebut kemudian dikenal dengan Missouri Mathematics Project (MMP).
Model Missouri Mathematics Project ( MMP ) merupakan suatu program yang di desain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa. Latihan-latihan yang dimaksud yaitu lembar tugas proyek, dimana pada saat kegiatan belajar mengajar guru memberikan tugas proyek kepada siswa agar siswa dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan tujuan untuk membantu siswa agar lebih mudah memahami materi yang dijelaskan oleh Guru.
b.      Langkah-Langkah Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Secara sederhana tahapan kegiatan dalam Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project  adalah sebagai berikut :
1)        Pendahuluan atau Review
a)        Membahas PR.
b)        Meninjau ulang pelajaran lalu yang berkait dengan materi baru.
c)        Membangkitkan motivasi.
2)        Pengembangan
a)        Penyajian ide baru sebagai perluasan konsep matematika terdahulu.
b)        Penjelasan, diskusi demonstrasi dengan contoh konkret yang sifatnya piktorial dan simbolik.
3)        Latihan Dengan Bimbingan Guru
a)        Siswa merespon soal
b)        Guru mengamati
c)        Belajar kooperatif
4)        Kerja Mandiri
Siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep pada langkah 2.
5)        Penutup
a)        Siswa membuat rangkuman pelajaran, membuat renungan tentang hal-hal baik yang sudah dilakukan serta hal-hal kurang baik yang harus dihilangkan.
b)        Memberi tugas PR.
c.       Karakteristik Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Karakteristik dari model pembelajaran MMP ini adalah Lembar Tugas Proyek. Tugas proyek ini antara lain dimaksudkan untuk memperbaiki komunikasi, penalaran, keterampilan membuat keputusan dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Tugas proyek ini dapat dilakukan secara individu (pada langkah seatwork) atau secara berkelompok (pada langkah latihan terkontrol). Sehingga tugas proyek ini merupakan suatu tugas yang meminta siswa untuk menghasilkan sesuatu (konsep baru) dari dirinya (siswa) sendiri.  
Tugas Proyek ini diharapkan untuk:
·           Memungkinkan siswa menjadi kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang berbeda – beda,
·           Memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan pertanyaan mereka sendirian kemudian mencoba menjawabnya,
·          Memberikan siswa masalah – masalah sebagai cara alternative mendemonstrasikan pembelajaran dan kompetensi siswa,
·           Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi secara positif dan bekerja sama dengan teman sekelasnya, dan
·           Memberikan forum bagi siswa untuk berbagi pengetahuan dan kepandaian mereka dengan siswa lainnya.
d.      Prinsip-Prinsip dalam Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Prinsip-prinsip atau unsur-unsur dalam model pembelajaran Missouri Mathematics Project ada 2 yaitu Belajar Kooperatif dan Kemandirian Siswa.
·           Belajar Kooperatif
Pada belajar kooperatif adanya prinsip ketergantungan posistif (dalam belajar kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut), adanya interaksi tatap muka (memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota - anggota kelompok lain), adanya partisipasi dam komunikasi (melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi aktif dalam kegiatan pembelajaran) dan adanya tanggung jawab perseorangan (keberhasilan kelompok sangat bergantung dari masing – masing anggota kelompoknya).
·           Kemandirian Siswa
Kemandirian siswa dalam hal ini adalah siswa mampu mengerjakan tugas – tugas atau latihan – latihan yang berupa lembar kerja proyek yang diberikan oleh guru secara sendiri dan penuh dengan rasa tanggung jawab terhadap tugas proyek tersebut. Dengan adanya kemandirian dari siswa tersebut maka siswa tersebut telah menerapkan konsep gaya belajar mandiri.
e.       Perbedaan Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dengan Pembelajaran Konvensional
Sepintas nampak bahwa model pembelajaran MMP sama dengan pembelajaran konvensional, namun jika ditelaah lebih dalam ada perbedaan antara model MMP dengan pembelajaran konvensional. Perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut:


Aspek Perbedaan
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran MMP
Pengembangan konsep/penyampaian materi.
Materi dominan disampaikan oleh guru secara keseluruhan
Materi disampaikan oleh guru atau siswa melalui diskusi maupun kolaborasi antara guru dan siswa
Pengelolaan kelas
Pembelajaran klasikal (tidak ada pembentukan kelompok belajar)
Pembelajaran kelompok (siswa dibagi menjadi beberapa kelompok belajar)
Sumber Pembelajaran
Dominan hanya menggunakan Teksbook
Teksbook, lembar tugas proyek (latihan terkontrol, latihan mandiri dan PR)
Interaksi belajar
Interaksi belajar terbatas hanya guru dengan siswa atau siswa dengan siswa secara individu
Interaksi belajar lebih luas yaitu gur dengan siswa, siswa dengan siswa dalam kelompok belajar, siswa dengan siswa secara individu, dan siswa dengan sumber pembelajaran (lembar tugas proyek)
Penerapan konsep atau latihan
Latihan hanya diberikan ketika selesai pengembangan konsep siswa mengerjakan secara individu atau dengan teman sebangku.
Latihan diberikan dua kali yaitu pada langkah latihan terkontrol dan seatwork (latihan mandiri) siswa mengerjakan latihan secara kelompok (latiihan terkontrol) dan latihan individu (seatwork)
Peran guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran
Guru lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran (Teacher Centered)
Siswa lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran (Student Centered)

f.        Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Missouri Mathematics  Project (MMP)
·         Kelebihan
1.      Banyak materi yang bisa tersampaikan kepada siswa karena tidak terlalu banyak memakan waktu. Artinya penggunaan waktunya dapat diatur relative ketat. 
2.      Banyak latihan sehingga siswa mudah terampil dengan beragam soal. 
·         Kekurangan
1.      Kurang menepatkan siswa pada posisi yang aktif. 
2.      Mungkin siswa cepat bosan karena lebih banyak mendengar.



Rabu, 28 November 2012

Ini lhooo Model Pembelajaran CTL ituu..


Model Pembelajaran  Contextual Teaching Learning (CTL)

Contextual Teaching Learning (CTL) dapat diartikan sebagi suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.

CTL
Konvensional
Pemilihan informasi kebutuhan individu siswa;
Pemilihan informasi ditentukan oleh guru;
Cenderung mengintegrasikan  beberapa bidang (disiplin);
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu;
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa;
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan;
Menerapkan penilaian autentik melalui melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah;
Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian/ulang

Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen  utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).

a. Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap  individu  dapat  membuat  struktur  kognitif  atau mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000). Fungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk ide baru.
Menurut Piaget pendekatan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :
1)      Mengandung pengalaman nyata (Experience);
2)      Adanya interaksi sosial (Social interaction);
3)      Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense making);
4)      Lebih memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge).
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
b. Bertanya (Questioning)
Bertanya  merupakan  strategi  utama  dalam  pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry.  Dalam  sebuah  pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1)      Menggali informasi, baik administratif maupun akademis;
2)      Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa;
3)      Membangkitkan respon kepada siswa;
4)      Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5)      Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6)      Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7)      Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
c. Menemukan (Inquiry)
Menemukan  merupakan  bagian  inti  dari  pembelajaran  berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003). Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :
1)      Merumuskan masalah ;
2)      Mengajukan hipotesis;
3)      Mengumpulkan data;
4)      Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
5)      Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan  siswa  memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.
d. Masyarakat belajar (Learning Community)
Konsep  Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa, antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi pengalaman (Depdiknas, 2003).
e. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam arti  guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru siswa digolongkan menjadi :
  • Kehidupan yang nyata (real life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;
  • Simbolik (symbolic), model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;
  • Representasi (representation), model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya televisi dan radio.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.  Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang realisasinya dapat berupa :
  • Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh  pada pembelajaran yang baru saja dilakukan.;
  • Catatan atau jurnal di buku siswa;
  • Kesan dan saran mengenai pembelajaran yang telah dilakukan.
g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment menurut Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang  diukur keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedbackAuthentic assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya tulis.


Haiiii

 Assalamualaikum^^
Selamat datang di duniaku, selamat membaca dan semoga dapat bermanfaat yaaa :)